Emir Mahira, dari Lapangan Bola ke Panggung FFI

Jakarta – Tahun 2008 bisa dibilang tahun yang tak akan dilupakan oleh Emir Mahira. Itulah momen pertama ia memasuki dunia seni peran layar lebar. Emir mengawali debut aktingnya lewat film ‘Garuda di Dadaku’ garapan sutradara Ifa Isfansyah. Kala itu, ia barus berumur 11 tahun.

“Nggak pernah kepikiran sebelumnya untuk bermain film. Waktu itu lagi latihan main bola dan ada casting Garuda di Dadaku. Mereka lihat aku kemudian mereka mau aku untuk casting. Tahun 2008 itu tepatnya,” kenangnya dengan ekspresi wajah yang ceria.

Bagi anak ke-2 dari 3 bersaudara itu, akting adalah pengalaman yang sama sekali baru. Walaupun kalau dirunut, darah akting boleh jadi diturunkan oleh salah seorang tantenya yang pernah bermain film pada era 70-an. Namun, kedua orangnya bukanlah orang-orang yang akrab dengan dunia akting.

Terlepas dari semua itu, Emir kemudian merasa ‘enjoy’ dengan dunia barunya itu. Debut Emir pun mendapat banyak pujian. Tak pelak tawaran untuk bermain film kemudian mengalir. Setelah ‘Garuda di Dadaku’, ia muncul dalam dua drama musikal, ‘Melodi’ (Harry Dagoe) dan ‘Rumah Tanpa Jendela’ (Aditya Gumay). Sebelum akhirnya muncul lagi dalam ‘Garuda di Dadaku 2’.

“Aku let it flow saja. Ke mana arus membawaku selagi aku mampu dan bisa aku akan melakukannya. Waktu di Garuda di Dadaku 1 aku dapat crew yang sangat mengerti keinginan anak-anak. Mereka baik dan mau mengarahkan bagaimana semestinya aku bekerja,” tuturnya.


Kendati mengaku “let it flow”, semua tentu bukanlah sebuah kebetulan semata. Film sepertinya memang sudah menjadi jodoh Emir. Bakatnya pun muncul di sana. Orangtuanya pun tak menyangka, dan mengaku cukup kaget.

“Dia ini sangat gampang menghafal skrip. Saya saja binggung kapan dia megang skripnya. Padahal waktunya kan habis untuk belajar. Tapi itulah takdir kita tidak tahu plot apa yang sudah digariskan untuk Emir,” jelas sang ibunda yang menemani Emir ketika berbincang dengan detikhot.

‘Rumah Tanpa Jendela’ bahkan kemudian mengantarkannya meraih Piala Citra sebagai Aktor Pria Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2011. Dalam film itu, Emir berperan sebagai anak orang kaya yang menderita keterbelakangan mental. Lagi-lagi, Emir hanya bisa berkata, “Nggak menyangka.”

“Aku dan keluargaku datang ke sana (malam penganugerahan FFI 2001) dengan nothing to lose. Karena memang sainganku adalah orang-orang yang benar-benar sudah eksis dalam dunia perfilman dan peran mereka juga nggak kalah penting,” ujarnya.

“Tapi, aku memang memiliki target untuk mendapatkannya. Karena memang aku merasa sudah total dan berbuat yang terbaik dalam film-filmku,” tambahnya.

Setelah kemenangan di FFI itu, film terbaru Emir ‘Garuda di Dadaku 2’ beredar di bioskop. Sebuah momen yang sangat pas. Membuat nama Emir menjadi sorotan, dan secara naluri ia seolah memang telah siap untuk menjadi, katakanlah, idola baru di dunia film.

“Entah kenapa aku memang sudah tahu risiko itu. Agak susah untuk aku jalan tanpa dikenali orang-orang. Tapi mereka sangat baik denganku. Jadi itu yang membuatku senang dan nyaman. Kalau stlye aku ya memang begitu seperti di Garuda di Dadaku 2 itu. Tapi aku nggak suka pakai celana pendek sih, dan tidak terlalu sporty,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s