Talasemia

Talasemia

Talasemia adalah salah satu penyakit darah yang di warisi, umumnya menyerang anak – anak di kalangan masyarakat, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat sekurang – kurangnya 2000 orang yang menderita talasemia di seluruh negara. Sekarang kira – kira 100.000 anak – anak diseluruh dunia di lahirkan dengan penyakit ini setiap tahun (1).

Talesemia ialah sejenis penyakit keturunan yang melibatkan sel – sel darah merah. Sel darah merah penderita talasemia mudah pecah yang menyebabkan penderita mengalami kekurangan darah. Talasemia merupakan penyakit keturunan yang paling sering ditemukan di negara ini dengan 3-5% atau 5 dari 100 orang menjadi pembawa penyakit talasemia (6).

Penderita talasemia cukup banyak di Indonesia. Di Jawa Baratpun jumlah mereka tidak sedikit. Data di Perhimpunan Orang Tua Penderita Talesemia Jawa Barat menunjukkan ada 189 penderita yang rajin berobat ke RS dr. Hasan Sadikin Bandung. Talasemia merupakan suatu kelainan darah yang biasanya menimpa orang – orang yang berasal dari daerah Laut Tengah, Timur Tengah dan Asia. Kelainan ini jarang ditemukan pada orang – orang dari Eropa Utara (1).

Talasemia terdiri dari dua jenis, talasemia trait atau minor dan talasemia mayor. Talasemia jenis pertama hanyalah pembawa sifat dan tidak berbahaya. Namun demikian, orang dengan talasemia minor dapat menurunkan kelainan darah berupa talasemia mayor pada anaknya. Menurut perkiraan, di Indonesia ditemukan 200.000 orang dengan talasemia trait/minor. Sementara itu, telasemia mayor termasuk kelainan darah yang serius dan bermula sejak kanak – kanak. Anak – anak dengan talasemia mayor tidak dapat membentuk hemoglobin yang cukup dalam darah mereka. Di indonesia, tidak kurang dari 1000 anak kecil yang menderita talasemia mayor. Talasemia mayor juga bisa disebut Mediterrannean Cooley’s Anaemia atau Homozygous Beta Thalassaemia.

Umumnya anak – anak yang menderita talasemia mayor diketahui saat beberapa bulan setelah lahir, mereka menderita anemia. Mereka hanya memiliki sedikit hemoglobin dalam darahnya sehingga pasokan oksigen ke seluruh tubuhpun berkurang.

Karena talasemia bersifat turunan, bila kedua orang tua tidak menderita talasemia trait, tidak mungkin mereka menurunkan talasemia trait atau talasemia mayor pada anak – anaknya. Namun, jika salah seorang dari orang tua menderita talasemia trait, satu dari dua anak (50%) kemungkinan setiap anak mereka akan menderita talasemia trait, tetapi tidak seorangpun diantaranya yang menderita talesima mayor. Akan tetapi, kalau kedua orang tua menderita talasemia trait, anak – anaknya mungkin akan menderita talasemia trait atau bahkan memiliki darah normal, atau malah menderita talasemia mayor dalam setiap kehamilan terdapat satu dari empat (25%) kemungkinan bahwa anak mereka mempunyai darah normal, dua dari empat 150% mungkin menderita talasemia bawaan (2)

2.1 Definisi

Merupakan penyakit anemia hemolitik herediter yang diturunkan dari kedua orang tua kepada anak – anaknya secara resesif, menurut hukum mendel (7)

Talasemia adalah suatu kelompok anemia hemolitik kongenital yang disebabkan oleh kekurangan sintesis rantai polipeptid yang menyusun molekul globin dalam hemoglobin (3).

Talasemia merupakan penyakit anemia hemolitik herediter yang diturunkan secara resesif (10).

2.2 Etiologi

Talasemia disebabkan oleh delesi (hilangnya) satu gen penuh atau sebagian dari gen (ini terdapat terutama pada talasemia -a) atau mutasi noktah pada gen (terutama pada talasemia – b), kelainan itu menyebabkan menurunnya sintesis rantai polipeptid yang menyusun globin (4)

Penyebab anemia pada talasemia bersifat primer dan sekunder. Primer adalah berkurangnya sintesis HbA dan eritropoesis yang tidak efektif disertai penghancuran sel-sel eritrosit intramedular. Sedangkan yang sekunder ialah karena defisiensi asam folat, bertambahnya volume plasma intravaskular yang mengakibatkan hemodilusi dan destruksi eritrosit oleh sistem retikuloendotelial dalam limpa dan hati. Penelitian biomolekular menunjukkan adanya mutasi DNA pada gen sehingga produksi rantai alfa atau beta dari hemoglobin berkurang (10).

2.3 Epidemiologi

Dari ribuan penyakit talasemia di Indonesia, diperkirakan 85% di antaranya berasal dari keluarga miskin dan berpenghasilan rendah (11).

Indonesia termasuk wilayah dengan kasus talasemia cukup tinggi. Data dari sejumlah rumah sakit besar dan pusat pendidikan menunjukkan frekuensi gen talasemia berkisar antara 8 – 10% artinya dari 100 orang penduduk mempunyai gen talasemia.

Wilayah dengan prevalensi tinggi talasemia adalah sekitar Laut Tengah, Timur Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, talasemia juga sering disebut sebagai Mediterranean Cooley’s Anaemia atau Homozygous Beta Tallasesaemia. Diperkirakan, ada sekitar 3000 penderita talasemia mayor di seluruh Indonesia. Sekarang yang berobat di pusat Talasemia FKUI RSCM berjumlah sekitar 900 orang (5).

Sementara itu, wakil sekretaris PIKAB V, Dr Susi Susanah, Sp.A, menyatakan setiap tahunnya di Indonesia kemungkinan 2000 bayi lahir dengan talasemia berat. Di RSHS saja ada 250 anak yang menderita talasemia mayor (6).

Frekuensi talasemia beta di Asia Tenggara adalah antara 3 – 9 % gen untuk talasemia beta tersebar luas di daratan Cina. Fokus talasemia alfa adalah di daerah perbatasan Muangthai Utara dan Laos dengan frekuensi 3– 40 %, kemudian tersebar dalam frekuensi lebih rendah di Asia Tenggara termasuk Indonesia. (8)

2.4 Klasifikasi

Secara molekuler talasemia dibedakan atas :

1. Talasemia – a (gangguan pembentukan rantai a)

2. Talasemia – b (gangguan pembentukan rantai b)

3. Talasemia – b – d (gangguan pembentukan rantai b dan d yang letak gennya di duga berdekatan).

4. Talasemia – d (gangguan pembentukan rantai d)

Secara klinis talasemia di bagi dalam 2 golongan yaitu :

1. Talasemia mayor (bentuk homozigot)

Memberikan gejala klinis yang khas

2. Talasemia minor

Biasanya tidak memberikan gejala klinis (7)

2.5 Patofisiologi

Hb tersusun atas heme (cincin porfirin yang mengikat Fe) dan globin (protein). Globin tersusun atas 2 pasang rantai polipeptid, yaitu sepasang rantai a dan sepasang rantai non a pada orang normal rantai non a adalah rantai b, l dan d)

Sehingga dapat di rumuskan sebagai berikut :

– a 2 b 2 = Hb A atau Hb A1 atau adult95% total Hb.

– a 2 l 2 = Hb F ata UHb Fetal2% total Hb = pada fetus atau neonatus hampir 100% adalah HbF.

– a 2 d 2 = Hb A2

Orang tua keduanya trait

Anak 25% Normal

50% trait

25% talasemia

Gb.1 Bagan pewarisan talasemia – b menurut mendel (4).

2.1 Manifestasi Klinis

Secara klinis talasemia dapat dibagi dalam beberapa tingkatan sesuai beratnya gejala klinis mayor, intermedia dan minor atau trait (pembawa sifat). Batas antara tingkatan tersebut sering tidak jelas.

Biasanya bersifat homozygot. Sinonim : Anemia Cooley, Talasemia Beta Mayor Anemia Mediteranean, Talasemia Homozygot. Gejala klinis berupa muka mogoloid, pertumbuhan badan kurang sempurna (pendek), pembesaran hati dan limpa, perubahan pada tulang karena hiperaktivitas sumsum merah berupa deformitas dan faktor spontan, terutama kasus yang tidak atau kurang mendapat tranfusi darah. Deformitas tulang disamping mengakibatkan muka mongoloid, dapat menyebabkan pertumbuhan berlebihan tulang frontal dan zigomatik serta maksila. Pertumbuhan gizi biasanya buruk. Sering disertai retraksi tulang rahang. Sinusitis (terutama maksilaris) sering kambuh, akibat kurang lancarnya drainase pertumbuhan intelektual dan berbicara biasanya tidak terganggu. IQ kurang baik apabila tidak mendapat tranfusi darah secara teratur dan cukup menaikkan kadar Hb.

Anemia biasanya berat dan biasanya mulai muncul gejalanya pada usia beberapa bulan serta menjadi jelas pada usia 2 tahun. Ikterus jarang terjadi dan bila ada biasanya ringan. Talasemia -bo homozygot pada umumnya memerlukan tranfusi secara reguler, tetapi ada kalanya berlangsung ringan dan memberikan gambaran klinis seperti talasemia intermedia. Talasemia beta diantara orang negro (talasemia beta 2) pada umumnya berlangsung ringan.

Pada talasemia intermedia dan minor sesuai dengan arti katanya didapatkan variasi luas mengenai jenis gejala klinis. Talasemia intermedia fenotipik adalah talasemia mayor tanpa adanya kerusakan gen. Keadaan klinisnya lebih baik dan gejala lebih ringan daripada talasemia mayor. Pada talasemia intermedia umumnya tidak ada splenomegali. Anemia ringan, bila ada disebabkan oleh masa hidup eritrosit yang memendek.

Pada talasemia trait umumnya tidak dijumpai gejala klinis yang khas. Hanya di dapat kelainan pada eritrosit dan atau hanya sebagian dari gejala yang didapat pada kasus homozygot.

Gambaran klinis penyakit talasemia beta Hb E menyerupai talasemia mayor Hb dalam hal ini terdiri dari HbE, HbF dan apabila ada Hb A1 dalam jumlah yang sedikit (8)

Talesemia mayor mulai menunjukkan gejala anemia pada masa bayi (kadang – kadang pada umur 3 bulan) pada waktu sintesis rantai -b menggantikan sintesis rantai – l. Anak semakin pucat dan mengalami gangguan pertumbuhan sehingga makin nyata tampak kecil, fragil. Lama – lama perut membuncit karena splenomegali. Karena itu setiap anak dengan pucat (terutama bila anemia berat), fragil, mungkin juga ditemukan PEM I maka dia harus dicurigai menderita talasemia, mengingat Indonesia adalah daerah sindrom talasemia. Pada pengamatan lebih dekat tampak muka mongoloid dengan hipertolerisme, nasal bridge pesek; pada anak yang agak besar mulut tonggos (rodent like mouth) akibat maksila yang lebih menonjol, bibir atas agak terangkat. Splenomegali makin nyata dengan makin bertambahnya umur. Hepatomegali umumnya ada, pasca splenektomi hepatomegali selalu ada dan progresif. Limfadenopati jarang terjadi.

Pada masa remaja terjadi keterlambatan menarche dan pertumbuhan alat kelamin sekunder, keterlambatan fungsi reproduksi. Dapat pula terjadi fraktur patologik, ulkus kronik ditungkai bawah seperti pada anemia hemolitik kronik yang lain sebagai akibat dari ekspansi eritropoesis. Terjadi distorsi tulang – tulang muka sehingga dahi menonjol, mulut tonggos, pertumbuhan gigi tidak teratur (4).

Hemosiderosis makin nyata pada dekade kedua kehidupan terutama pada penderita yang sering mendapat tranfusi (sampai > 100 kali) dan tidak mendapat iron chelating agent untuk mengeluarkan timbunan besi tubuh. Pada Rontgen tulang kepala tampak gambaran “hair on end” korteks tipis bahkan tak tampak, diploe tampak seperti garis – garis tegak lurus pada lengkung tengkorak seperti gambaran singkat (8)

2.2 Pemeriksaan Penunjang

1. Darah tepi

– Hb rendah dapat sampai 2 atau 3 gr%

– Gambaran morfologi eritrosit : mikrositik hipokromik, sel target, anisositosis berat dengan makrovaloositosis, mikrosferosit, polikromasi, basophilic stippling, benda Howell – jolly, poikilositosis dan sel target. Gambaran ini lebih kurang khas.

– Normoblas di daerah tepi terutama jenis asidofil (perhatikan normoblas adalah sel darah merah yang masih berinti sehingga ikut terhitung pada perhitungan lukosit dengan bilik hitung adalah AL lebih tinggi dari pada sebenarnya)

– Retikulosit meninggi

2. Susunan Tulang (tidak menentukan diagnosis)

– Hiperplasi sistem eritropoesis dengan normoblas terbanyak dari jenis asidofil.

– Granula Fe (dengan pengecatan prussian Blue) meningkat.

3. Pemeriksaan Khusus

– HbF meninggi : 20% – 90% Hb total (alkali denaturasi)

– Elektroforesis Hb untuk menunjukkan hemoglobinopati yang lain maupun mengukur kadar HbF.

– Pemeriksaan pedigree untuk memastikan diagnosis : kedua orang tua pasien telasemia mayor merupakan trait (carier) dengan Hb A2 meninggi (> 3,5 dari Hb total)

4. Pemeriksaan Lain

– Foto Ro tulang kepala menunjukkan gambaran hair on end kortex menipis, diploe melebar dengan traberkula tegak lurus pada kortex.

– Foto tulang pipih dan ujun
g tulang panjang menunjukkan perluasan sumsum tulang ® trabekula tampak jelas.

– Fragilitas eritrosit terhadap larutan NaCl menurun

– Bukti pasti fenotif talasemia adalah ketidakseimbangan produksi rantai polipeptida globin (diagnosis molekuler) (3)

2.3 Diganosis

Diagnosis talasemia dapat didasarkan atas gejala dan tanda sebagai berikut:

1. Anamnesis

a. Anemia sejak masa bayi, biasanya tampak setelah umur 6 bulan. Pertumbuhan kurang, perut buncit, aktifitas fisik kurang.

b. Dari anamaesis keluarga sering terungkap adanya anggota keluarga dengan gambaran penyakit serupa.

2. Pemeriksaan Fisik

a. anak tampak anemia, fragil dengan ekstrimitas kecil – kecil, perut membuncit.

b. Facies mongoloid, hipertelorismus, rodent like appearance

c. Splenomegali, mungkin juga hepatomegali.

3. Pemeriksaan Penunjang (3)

2.4 Komplikasi

Akibat anemia yang berat dan lama, sering tarjadi gagal jantung. Tranfusi darah yang berulang-ulang dan proses hemolisis menyebabkan kadar besi dalam darah sangat tinggi, sehingga ditimbun dalam berbagai jaringan tubuh seperti hepar, limpa, kulit, jantung dan lain-lain. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan fungsi alat tersebut (hemokromatosis). Limpa yang membesar mudah ruptur akibat trauma yang ringan. Kadang-kadang talasemia disertai oleh tanda hipersplenisme seperti leukopenia dan trombopenia. Kematian terutama disebabkan oleh infeksi dan gagal jantung (7).

2.10 Penatalaksanaan

Hingga sekarang, talasemia belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Satu – satunya tindakan yang bisa dilakukan untuk memperpanjang usia penderita kekurangan darah sebagai dampak dari kurang normalnya sistem produksi sel darah merah. (9)

Atasi anemia dengan tranfusi PRC (Packed Red Cell). Tranfusi hanya diberikan bila Hb < 8 gr/dl. Sekali di putuskan untuk diberi tranfusi darah, Hb harus selalu dipertahankan di atas 12gr/dl dan tidak melebihi 15gr/dl, diberikan 10 – 15 mg/kg BB per satu kali pemberian selama 2 jam atau 20 ml/kgBB dalam waktu 3-4 jam. Bila terdapat tanda gagal jantung, pernah ada kelainan jantung, atau Hb <5gr/dl, dosis satu kali pemberian tidak boleh lebih dari 5ml/kg BB dengan kecepatan tidak leibh dari 2ml kgbb/jam. Sambil menunggu persiapan tranfusi darah diberikan oksigen dengan kecepatan 2-4 lt/mnt. Setiap selesai pemberian satu seri tranfusi, kadar Hb pasca tranfusi di periksa 30 menit setelah pemberian tranfusi terakhir (10).

Metode transfusi sendiri, memberi efek negatif kalau terapi diberikan dalam jangka panjang. Bahan asing seperti besi yang seringkali masuk memicu penyumbatan nafas yang mampu berakhir dengan kematian. Di samping itu, pasien akan menderita kelebihan zat besi. Setiap 250 ml darah yang selalu membawa kira – kira 250 mg zat besi. Sedangkan kebutuhan manusia normal hanya 1 – 2 mg perhari. Zat besi berlebih ini akan mengganggu fungsi organ tubuh (11)

Talesemia belum bisa disembuhkan. Satu – satunya pengobatan di Indonesia saat ini adalah tranfusi darah, setidaknya satu kali per bulan khelasi zat besi dengan desferal (Deferioksamin) lima sampai tujuh kali per minggu. Khelasi perlu dilakukan, karena sel darah merah mengandung hemoglobin yang berisi zat besi yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh. Pada orang normal, zat besi dari sel darah merah yang rusak digunakan lagi oleh tubuh untuk pembentukan sel darah merah baru. Pada penderita talasemia yang mendapat tranfusi darah rutin, zat besi tidak dipakai tubuh sehingga menumpuk dalam tubuh. Hal ini mengganggu fungsi hati, jantung, dan organ lain. Kematian penderita talasemia biasanya disebabkan keracunan zat besi. Khelasi dilakukan dengan menyuntikkan deferioksamin dibawah kulit lewat syringe driver (pompa suntik). Zat ini akan mengambil zat besi dari tubuh dan mengeluarkan lewat air kemih. Proses khelasi berlangsung sekitar 8 – 10 jam. Alat ini cukup kecil dan bisa ditempelkan ditubuh.

Cara lain adalah cangkok sumsum tulang. Namun, untuk talasemia belum pernah dilakukan di Indonesia. Selain sulit karena jenis sumsum tulang donor harus cocok dan bisa diterima tubuh penderita telasemia (5)

Splenektomi diindikasikan bila terjadi hipersplenisme atau limpa terlalu besar sehingga membatasi gerak pasien, menimbulkan tekanan intraabdominal yang mengganggu nafas dan beresiko mengalami ruptur. Hipersplemisme dini ditandai dengan jumlah tranfusi melebihi 250 m/kg BB dalam 1 tahun terakhir dan adanya penurunan Hb yang drastis. Hipersplenisme lanjut ditandai oleh adanya pansitopenia. Splenektomi sebaiknya dilakukan pada umur 5 tahun ke atas saat fungsi limpa dalam sistem imun tubuh telah dapat diambil alih oleh organ lifoid lain (10)

2.11 Prognosis

Tanpa terapi penderita akan meninggal pada dekade pertama kehidupan, pada umur, 2-6 tahun, dan selama hidupnya mengalami kondisi kesehatan buruk. Dengan tranfusi saja penderita dapat mencapai dekade ke dua, sekitar 17 tahun, tetapi akan meninggal karena hemosiderosis, sedangkan dengan tranfusi dan iron chelating agent penderita dapat mencapai usia dewasa meskipun kematangan fungsi reproduksi tetap terlambat (4).

DAFTAR PUSTAKA

1. Dewi Sari, 1997, Talasemia, Penyakit Baka Musnahkan Sel Darah Merah. http://www.yahoo.com.

2. Pikiran Rakyat Cyber Media, 2002, Lebih Jauh Tentang Talasemia, http://www.Yahoo.com

3. Standart Pelayanan Medis Operasional RSUP Dr. Sardjito, 2000, Talasemia Mayor, FKUGM, Edisi II, cetakan I, Yogyakarta, hal : 101-103.

4. Sunarto, Penyakit Darah Pada Anak, Lecturenote, FKUGM, Yoyakarta.

5. Harian Kompas, 2001, Delapan dari 100 warga Bawa Gen Talasemia, http://www.google.com.

6. Pikiran Rakyat Cyber mania, 2002, Ahli Jantung Anak Masih Kurang, http://www.yahoo.com

7. Hasan, R, et al, 2000, Talasemia, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jilid III, Cetakan 8, Jakarta Hal : 444 – 450.

8. Kosasih, En, 2001, Sindroma Talasemia, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Jilid II, edisi III, Jakarta hal : 523 – 533.

9. Pikiran rakyat Cyber Mania, 2002, 85% Pasien Talasemia Miskin, http://www.yahoo.com

10. Mansjoer, A, 2000, Talasemia, Kapita Selekta Kedokteran, media aesculapius, FKUI, Jilid 2, Edisi ke III Jakarta, hal : 497 – 498

11. Sinar Harapan, 2001, Genetika menjadi pemicu Talasemia, http://www.google.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s